Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2016

Kisah Janda Miskin yang Diajak BERBISNIS Oleh Allah SWT

Dunia ini memiliki keindahan dan kepahitan yang bisa menimpa siapa saja. Terkadang, suatu ken1kmatan dapat mengantarkan kita pada kepahitan. Begitu juga dengan kepahitan juga bisa membawa kita menuju kebahagiaan. Inilah mengapa dunia sering disebut sebagai panggung sandiwara.

Allah mengetahui semua yang kita tahu dan tidak kita tahu. Berbeda dengan manusia yang memiliki keterbatasan pengetahuan secara hakiki dalam dunia ini. Banyak keindahan dunia yang menipu dan banyak pula kepahitan yang sebenarnya adalah ken1kmatan.

 Kisah Janda Miskin yang Diajak Berbisnis Oleh Allah SWT

Sebuah dalil menjelaskan bahwa terkadang manusia tidak menyukai sesuatu padahal itulah yang terbaik untuknya. Bisa juga manusia menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untuk dirinya. Sungguh Allah Maha Tahu, Dia mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Tanpa disangka rencana Allah lebih indah.

Suatu kisah menceritakan kehidupan seorang wanita yang sangat miskin. Ia hidup dengan anak-anaknya yang masih kecil dengan pekerjaannya sebagai pemintal bulu domba. Bulu domba itu dibuatnya menjadi benang untuk dijual lagi. Pada hari itu, ia membeli bulu sebagai bahan untuk membuat benang dan makanan pokok dipasar.

Setelah memintal, ia meletakkan benang yang telah jadi untuk segera dijual. Namun, tiba-tiba benang itu diambil oleh seekor burung gagak. Padahal hanya benang itu yang ia miliki untuk dijual. Dengan wajah kecewa dan marah, ia kemudian mendatangi Nabi Daud AS dan menanyakan bahwa bukankah Allah itu adil.

Nabi Daud pun membenarkan bahwa Allah adalah Maha Adil. Lalu wanita itu bercerita bahwa ia adalah seorang janda dengan anak-anak yatimnya. Hidupnya penuh dengan kekurangan. Harta satu-satunya yang ia miliki adalah benang yang akan dijualnya ke pasar. Tapi, seekor gagak datang dan mengambil benang itu. Ia bertanya, apakah ini yang dimaksud adil. Ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Mendengar cerita wanita itu, beliau pun berpikir sejenak. Tak berapa lama, datanglah 10 orang untuk menemui beliau. Mereka bercerita bahwa sebelumnya mereka ada di perahu di tengah laut. Tapi, perahu mereka tiba-tiba rusak dan hampir menenggelamkan semua orang di dalamnya. Kemudian, mereka bernadzar satu per satu bahwa mereka akan bersedekah 10 dinar bila Allah menyelamatkan mereka. Tiba-tiba seekor gagak yang sedang terbang menjatuhkan sesuatu, yakni benang. Benang itulah yang kemudian digunakan untuk memperbaiki perahu tersebut hingga mereka pun selamat. Siapa yang bisa menyangkal bahwa rencana Allah indah pada waktunya.

Setelah itu, mereka memberikan uang yang dinadzarkan itu pada Nabi Daud AS untuk disedekahkan. Nabi Daud AS memerintahkan kepada 10 orang itu untuk memberikan sedekah itu pada wanita janda yang masih berada di antara mereka. Ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dan betapa Maha Adilnya Allah SWT terhadap hambanya. Kisah ini menunjukkan bahwa rancangan Allah pasti indah.

Sebelumnya, wanita itu berburuk sangka kepada Allah. Ia menganggap bahwa Allah tidak adil karena telah mengambil harta satu-satunya itu. Namun, siapa yang menyangka ternyata Allah memiliki maksud tertentu, yakni menggantinya dengan harga yang lebih besar. sebuah benang yang pada dasarnya memiliki harta sangat murah, tapi oleh Allah diganti dengan harta yang banyak dari Allah. Tidak ada alasan lain untuk menolak berbisnis dengan Allah. Demikian kisah janda miskin yang diajak berbisnis oleh Allah.

CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

MASYA ALLAH!!! Inilah RAHASIA Kesembuhan SAKITNYA NABI AYUB A.S!...

Tahukah Anda cerita menarik yang menjadi rahasia kesembuhan Nabi Ayyub AS? Nabi Ayyub AS yang pernah menderita sakit dari kepala sampai kaki dan dalam waktu yang lama ini juga bisa mendapat secercah harapan sembuh. Pada akhirnya, beliau benar-benar sembuh. Simak kisahnya lebih lanjut melalui artikel ini.

Ya, tak bisa dipungkiri bahwa doa nabi Ayub memohon kesembuhan lah yang menjadi rahasia sembuhnya beliau. Kita mungkin sudah pernah mendengar kisahnya dan sangat kecil harapan Nabi Ayub ini bisa sembuh, tapi ternyata beliau mampu. Tentu saja hal ini dibantu dengan kebesaran Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an juga dituliskan bahwa Nabi Ayub pernah berseru kepada Allah Ta’ala bahwa beliau sadar beliau sedang terkena penyakit dan Allah merupakan Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.

Kisah Menakjubkan Kesembuhan Nabi Ayyub as



Allah Yang Maha Pengasih rupanya mendengar seruan dari Nabi Ayub ini, lalu menghilangkan penyakit parah yang sedang diderita beliau saat itu. Allah juga memberikan kembali keluarga Nabi Ayub kepada beliau, termasuk menggandakan jumlah mereka semua sebagai suatu wujud rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan suatu peringatan sekaligus pelajaran kepada semua orang yang menyembah Allah SWT.



Tidak heran bahwa doa Nabi Ayub sembuh dari penyakit ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak manusia, terutama orientalis barat atau komunis. Wajar saja, saat ditimpa masalah sangat berat seperti ini pun, Nabi Ayub tetap menyebut Allah sebagai Ya Arhamur Rahimin atau penyayang dari segala penyayang.



Bisa dikatakan bahwa saat kita mengalami masa sulit, kata-kata tersebut sangat susah terlontar dari mulut. Yang ada hanyalah keinginan untuk mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Bahkan kalaupun ada yang ingin kita ucapkan kepada Allah Sang Maha Pengasih, pujian yang keluar dari mulut adalah Ya Muafi atau Ya Syafi yang berarti wahai pemberi kesehatan atau wahai penyembuh. Hal ini tidak salah, tak bisa dipungkiri bahwa manusia pasti ingin segera dapat kesembuhan saat sakit sehingga menyebut Allah SWT dengan sebutan seperti itu. Akan tetapi, rupanya Allah lebih suka jika kita menyebut nama-Nya sebagai penyayang meski di saat sulit sekalipun.



Allah di surga akan melihat ketulusan hati kita saat berdoa dan tanpa ragu memberi kesembuhan atau kebebasan dari rasa sakit. Apalagi, jika kita mengeluh atau mengomel sendiri, hal tersebut tak akan menyelesaikan masalah sama sekali. Bahkan kita bisa merasa lebih sakit dan lebih kasihan lagi, tak ada keinginan untuk melawan penyakit bersangkutan. Sungguh menyedihkan, bukan?



Sebenarnya tak sulit mengikuti doa Nabi Ayyub dalam Al Quran ini, kuncinya adalah rasa ikhlas dari hati yang teramat besar. Tanamkan dalam pikiran bahwa tiap orang memang memiliki jatah sakit dan sampai saat ini, bisa hidup saja merupakan suatu berkat dari Allah yang patut disyukuri. Kita masih bisa bernapas saja bisa terjadi karena rasa sayang Allah yang begitu besar pada kita. Apalagi jika kita sadar bahwa sangat banyak dosa manusia telah dilakukan satu sama lain. Oleh karena itu, kesembuhan saja sudah berupa bonus dan pemberian yang luar biasa.



Dengan menerapkan pola pikir seperti ini, kita akan jauh lebih mudah merasa ikhlas dan memanjatkan doa sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Ayyub. Perlu diperhatikan bahwa kita tak lantas sembuh dengan doa seperti ini saja. Hati yang bersih dan ketaatan pada Allah akan menjadi faktor lain yang sangat menentukan. Sekian artikel mengenai rahasia kesembuhan Nabi Ayyub, semoga bermanfaat bagi kita semua.

CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

Subhanallah...Harta Boleh Miskin Tetapi Kekayaan Iman Tetaplah yang Utama....

Seorang pedagang hewan qurban bercerita mengenai pengalamannya : Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Diliat dari penampilannya kelihatannya tidak akan mampu beli. Namun masih tetap saya cobalah hampiri serta tawarkan padanya, “Silahkan bu…”, lalu ibu itu menunjuk satu diantara kambing termurah sembari ajukan pertanyaan, ”kalau yang itu berapakah Pak? ”.
“Yang itu 700 ribu bu, ” jawab saya. “Harga pasnya berapa? ”, Bertanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, namun biarlah……. “Tapi, duit saya cuma 500 ribu, boleh pak? ”, pintanya. Waduh, saya bingung, karenanya harga modalnya, pada akhirnya saya berembug dengan rekan hingga pada akhirnya ditetapkan diberikan saja dengan harga itu pada ibu itu.

Sayapun mengantar hewan qurban itu hingga kerumahnya, demikian tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, merasa menggigil semua tubuh lantaran lihat kondisi tempat tinggal ibu itu.
Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya serta puteranya di rumah gubug berlantai tanah itu. Saya tak lihat tempat tidur kasur, kursi ruangan tamu, terlebih perlengkapan elegan atau beberapa barang elektronik,. Yang tampak cuma dipan kayu beralaskan tikar serta bantal lusuh.

Di atas dipan, tertidur seseorang nenek tua kurus. “Mak….. bangun mak, nih lihat saya bawa apa? ”, kata ibu itu pada nenek yg tengah rebahan hingga pada akhirnya terbangun. “Mak, saya telah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak…. ”,
Kata ibu itu dengan penuh keceriaan.

Si nenek sangat terkaget meski terlihat bahagia, sembari mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, pada akhirnya kesampaian juga kalau emak ingin berqurban”.
“Nih Pak, uangnya, maaf ya bila saya nawarnya kemurahan, lantaran saya cuma tukang cuci di kampung sini, saya berniat menghimpun duit untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya…. ”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada merasa sesak, sembari menahan tetes air mata, saya berdoa, “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu bertemu dengan hamba-Mu yang tentunya lebih mulia ini, seorang yang miskin harta tetapi kekayaan Imannya demikian luar biasa”.
“Pak, ini biaya kendaraannya…”, panggil ibu itu, ”sudah bu, agar biaya kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelumnya ibu itu tahu bila mata ini telah basah lantaran tidak mampu mendapat teguran dari Allah yang telah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan serta penuh keimanan menginginkan memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia nyatanya tak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi terlebih kekuasaan, kita dapat belajar keikhlasan dari ibu itu untuk meraih kemuliaan hidup. Berapa banyak di antara kita yang di beri kecukupan pendapatan, tetapi masihlah saja ada kengganan untuk berkurban, walau sebenarnya mungkin saja harga handphone, arloji, tas, maupun aksesori yg melekat di badan kita harga nya jauh lebih mahal dibanding seekor hewan qurban. Tetapi selalu kita sembunyi di balik kata tak mampu atau tak dianggarkan.


CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

SUBHANALLAH....SEORANG KAKEK YANG MASIH TETAP SETIA PADA ISTRINYA MESKIPUN ISTRINYA SUDAH TAK MENGENALNYA LAGI

Pagi itu klinik begitu repot. Sekitaran jam 9 : 30, seorang kakek berumur 70-an datang untuk buka jahitan pada luka di ibu jarinya. Saya mempersiapkan berkasnya serta memintanya menunggu, lantaran semua dokter masihlah repot serta mungkin saja kakek itu baru bisa diakukan sekitaran satu jam lagi.
Pada saat menanti, kakek itu terlihat gelisah. Berulang-kali ia melirik arlojinya. Saya merasa kasihan. Jadi saat tengah luang, saya sempatkan untuk mengecek lukanya. Kelihatannya cukup baik, telah kering serta tinggal buka jahitan serta menempatkan perban baru. Pekerjaan yang tidaklah terlalu susah, hingga atas kesepakatan dokter, saya putuskan untuk menanganinya sendiri.
Sembari menangani lukanya, saya ajukan pertanyaan apakah dia miliki janji lain sampai terlihat terburu-buru.
“Tidak. Hanya saja, seperti kebiasaanku keseharian, saya akan pergi ke tempat tinggal jompo untuk makan siang berbarengan istriku. ” Kakek itu bercerita kalau istrinya menderita penyakit Alzheimer serta telah dirawat disana mulai sejak beberapa waktu.
“Apakah istri Kakek bakal marah bila Kakek terlambat? ”
“Tidak… Sesungguhnya istriku telah tidak lagi mengenaliku mulai sejak lima th. yang lalu” jawaban itu membuatku tersentak.
“Kakek masihlah pergi kesana setiap hari meskipun istri Kakek tak kenal lagi? ”
Pria tua itu tersenyum sembari tangannya menepuk tanganku serta berkata, “Dia memanglah tidak lagi mengenaliku, namun saya
masihlah mengenalinya, kan..? ”
Saya terus menahan air mata hingga kakek itu pergi…

Cerita mengharukan ini mengedar lewat pesan berantai. Tak tahu siapa sebenarnya penulisnya. Hasil penelusuran kisahikmah. com, cerita sama pernah dimuat di website Andriewongso pada 2013. Tetapi sebelumnya itu, cerita seperti ini juga sudah dimuat di Baitulamin pada 2012, serta Blogdetik pada 2010.
Terlepas dari siapa penulisnya, cerita ini mengajarkan mengenai makna cinta serta kesetiaan. Seperti kata penulisnya, cinta sebenarnya tak berbentuk fisik atau romantis. Cinta sejati yaitu terima apa yang ada yang berlangsung sekarang ini, yang telah berlangsung, yang akan terjadi, serta yang tidak akan pernah terjadi.

Dalam Islam, cinta pasangan suami istri terbagi dalam dua segi ; mawaddah serta rahmah. Mawaddah yaitu cinta yang berkaitan dengan aspek fisik ; kecantikan, ketampanan, ketertarikan pada pasangan yang dengannya mereka sama-sama memberi hak biol0gisnya. Sedangkah rahmah yaitu kasih sayang yang lebih dekat pada aspek non fisik serta immateri. 
Ia tumbuh serta ada dalam jiwa tanpa ada mempedulikan kecantikan serta ketampanan pasangannya. Ia bahkan juga tidak mempedulikan apakan belahan jiwanya sakit atau bahkan juga tidak lagi mengenalnya. Ia lahir dari prinsip pernikahan, yang dengan tulus menyukai pasangannya walau fisik sudah beralih. Berikut cinta yang selalu bertahan sampai tua, selama umur. 
Serta karena itu kita berdoa, agar keluarga kita jadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Sumber : Kabartrenmasakini


CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

MASYA ALLAH!!! Orang Ini Menjadi SUKSES Karena Sedekah Dua Lembar Lima Ribuan.

KISAH ini menceritakan tentang sedekah dua lembar uang lima ribuan yang dilakukan oleh seseorang dengan tulus pada saat dia sendiri sedang dalam kondisi sangat membutuhkan uang itu. Kisah yang terjadi pada masa yang namanya krisis moneter, dan dia baru saja terkena dampak krisis itu. Masa setelah lengsernya Presiden Suharto. Dimana pada saat itu perekonomian baru saja terpuruk. Pengangguran dan PHK sedang begitu gencarnya, kejahatan sedang merajalela.

Tersebutlah sebuah keluarga dengan dua orang anak. Sang suami terpaksa berhenti dari pekerjaannya karena tempatnya bekerja (perusahaan sablon) bangkrut. Simpanannya sudah habis untuk keperluan sehari-hari. Bahkan sekarang untuk makan dan biaya sekolah anak-anaknya sang istri harus menghutang tetangganya.

 Sedekah Dua Lembar Lima Ribuan

Suatu hari lelaki itu pergi keluar rumah dengan niat mencari pekerjaan. Akan tetapi hingga tengah hari tidak menghasilkan apa yang diharapkan. Ia berhenti di sebuah masjid dan menunaikan sholat dhuhur. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan.

Perutnya sudah sangat lapar. Dia bermaksud pergi ke warung. Tetapi niatnya digagalkan demi melihat seorang tua renta yang meminta-minta dihadapannya. Di dompetnya hanya ada dua lembar uang masing-masing lima ribuan. Satu lembar diberikannya kepada pengemis itu.

“Ini buat makan ya pak….” Dia memberikan satu lembar uang lima ribuannya. Uang yang rencananya untuk makan siang. Uangnya tinggal tersisa lima ribu rupiah.
Dia berpikir, sisa uangnya masih cukup untuk membeli nasi. Niat yang tadi tertunda rupanya tertunda lagi karena tiba-tiba ada seorang tua renta yang mengendarai sepeda onthel (sepeda angin) terserempet mobil di depan matanya. Dia berusaha menolongnya karena mobil yang menyerempetnya melarikan diri. Sepedanya rusak.

Dengan tulus dia membawa orang tersebut dan sepedanya ke bengkel terdekat. Lagi-lagi dia berada dalam posisi yang sangat sulit, satu sisi perut lapar dan perih tapi di sisi lain ada orang yang lebih membutuhkan. Dia harus membantu perbaikan sepeda orang tersebut karena kebetulan bapak tua tadi tidak mempunyai ongkos untuk memperbaikinya.

Dia pulang ke rumah dengan tanpa membawa hasil apapun, melainkan perut kosong dan perih, tetapi hal itu diterima dengan lapang dada. Dia masih berharap, Allah SWT memberikan jalan baginya. Keadaan itu berjalan berbulan-bulan hingga barang-barang di rumah sudah habis terjual.

Malam itu dia tidak bisa tidur, Pikirannya menerawang kemana-mana. Satu persatu teman-temannya sewaktu SMA dulu terlintas di benaknya. Tiba-tiba ingatanya tertahan pada teman karibnya dulu, dimanakah dia sekarang? Apakah hidunya sudah mapan? Teman karibnya itu tergolong mampu, buktinya dia sempat melanjutkan ke bangku kuliah dan dia sendiri tertahan karena keterbatasan keuangan orang tuanya waktu itu.

Allah SWT memang Maha Besar, tanpa disangka-sangka sahabat karib yang sempat terlintas di lamunannya kemarin malam tiba-tiba bertamu kerumahnya. Belakangan diketahui teman karibnya itu sudah menjadi ketua sebuah partai di Jawa Tengah.

Berawal dari saling menceritakan pengalaman hidupnya itu maka diapun diminta temannya itu untuk membuat umbul-umbul dan bendera dalam jumlah ribuan lembar. Jumlah yang sangat besar dibandingkan sewaktu dia masih menjadi karyawan perusahaan sablon dulu tempat bekerja.

“Ada apakah ini?” pikirnya. “Apakah Allah SWT mendengar doa-doaku?”
Dengan cek senilai Rp50 juta rupiah untuk modal yang diberikan teman karibnya itu, dia sendiri masih bingung cara memakainya, maklum baru sekali ini melihat yang namanya cek. Minimal kegalauanya tentang modal awal dari pesanan yang begitu banyak sudah ada jalan keluar.

Semenjak itulah dia mulai bekerja secara mandiri. Bahkan sekarang sudah memiliki gudang dan karyawan sampai 25 orang untuk menangani begitu banyaknya order. Ketika ada orang bertanya, apa yang menyebabkanmu menjadi sukses dalam dunia sablon? dengan sederhana dia menjawab, “Menurut saya karena dua lembar uang lima ribuan, satu lembar untuk peminta-minta yang sedang lapar dan lembar yang kedua untuk seseorang yang perlu perbaikan sepeda.”

“Saya mengatakan itu ya karena kenyataanya seperti itu, pada waktu itu barang-barang di rumah sudah habis dijual untuk menyambung hidup, tapi keinginan bertemu dengan sahabat karib SMA dulu kok tahu-tahu dia sudah bertandang ke rumah. Tidak ada akibat tanpa sebab. Saya yakin dengan sedekah, apalagi sedekah pada saat kita sendiri lagi susah, bersedekah ketika miskin sangat bernilai di mata Alloh SWT, tetapi bersedekah pada saat lapang seperti sekarang ini jangan ditinggalkan,” ujarnya lagi.  [Dikutip dari: “Kun Fayakun”/karya: Ust. Yusuf Mansur]


Rabu, 09 Maret 2016

Subhanallah....Faza Bocah Tunanetra Berusia 7 Tahun Sudah Hafal 30 Juz Al-Qur'an

Di Kutip Dari Dream.co.id. Usia Faza masih sangat kecil, 7 tahun. Dia mungkin terlahir sebagai anak kurang beruntung lantaran menderita tunanetra sejak lahir.

Meski begitu, Faza ternyata mendapat anugerah yang istimewa dari Allah SWT. Meski tak sanggup melihat, bocah ini punya ingatan yang kuat sehingga mampu menghafal dengan cepat.

Bahkan di usianya yang masih kecil, Faza telah menghafal Alquran genap 30 juz. Dia pun didaulat sebagai hafiz Alquran dalam Wisuda Akbar 6 yang digelar PPPA Daarul Quran pada 22 November 2015 lalu.

Di rumah tahfiz tersebut, Faza dibimbing menghafal Alquran dengan metode sema'an atau menyimak bacaan. Luar biasa, Faza begitu cepat menghafal Alquran dengan suara merdu.

Bahkan, Faza didaulat sendiri oleh Ustaz Yusuf Mansur menjadi wisudawan. Ustaz Yusuf kemudian meminta Faza untuk melafalkan hafalan Alquran di hadapan ribuan orang dan para syeikh yang hadir dalam wisuda tersebut.

Mimpi Faza tidak berhenti di situ. Dia masih punya impian bisa mendirikan masjid dan mengaji bersama Imam Masjidil Haram Syeikh Sudais.

(Ism, Sumber: PPPA Daarul Quran)


CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

SUBHANALLAH.... InsyaAllah SURGA Menantinya, Jika Ada Istri Yang Bersikap Seperti Ini Pada Suami !!

Sebelum pulang kantor, sang suami telp istri nya “Sayang, alhamdulillah, bonus akhir tahun dari perusahaan sudah turun, Rp. 150 juta.” Dibalik telp, sang istri tentu saja mengungkapkan rasa syukurnya, “Alhamdulillah, semoga barokah ya mas”. Sejak beberapa bulan yg lalu mereka sudah merencanakan beli mobil sederhana untuk keluarga kecilnya. Dan uang yg turun mereka rasa cukup pas sesuai budget.

Namun dalam perjalanan pulang, dia ditelp oleh ibunya di kampung, “Nak, kamu ada tabungan? Tadi ada orang datang ke rumah. Ternyata almarhum ayahmu punya hutang ke dia cukup besar, Rp. 50 juta.” Tanpa pikir panjang, ia pun bilang ke ibunya, “Iya, Bu, insyaAllah ada.” Dalam perjalanan pulang ia pun sambil berpikir, “Nggak apa-apa lah, masih cukup untuk beli mobil yg 100 jutaan. Mungkin ini lebih baik.”
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtlNpoUGFnwrh-n1J2OtZDJHB1OFQWPyxV_CH7fZO6ai8-HTkLk3GcHxSnhct9exHutpLGiFt_ZqNmYNmavovJIsTz4bcGC8oO1macGOB7NDdbffOiyQ8KDfCqVNp02rUtq_eCZGLZwv0/s1600/insya+Allah+Surga+Menantinya.jpg 
Ia pun melanjutkan perjalanan. Belum tiba di rumah, HP-nya kembali berdering. Seorang sahabat karibnya semasa SMA tiba-tiba menghubunginya sambil menangis. Sahabatnya itu sambil terbata mengabarkan bahwa anaknya harus segera operasi minggu ini. Banyak biaya yg tidak bisa dicover oleh asuransi kesehatan dari pemerintah. Tagihan dari rumah sakit Rp. 80 juta.
Ia pun berpikir sejenak. Uang bonusnya tinggal 100 juta. Jika ini diberikan kepada sahabatnya, maka tahun ini ia gagal membeli mobil impiannya. Tapi nuraninya mengetuk, “Berikan padanya. Mungkin kamu memang jalan Allah untuk menolong sahabatmu itu. Mungkin ini memang rezekinya yang datang melalui perantara dirimu.” Ia pun menuruti panggilan nuraninya.

Setibanya di rumah, ia menemui istrinya dg wajah yg lesu. Sang istri bertanya, “Kenapa, mas? Ada masalah? Nggak seperti biasanya pulang kantor murung gini?” Sang suami mengambil napas panjang, “Tadi ibu di kampung telp, butuh 50 juta untuk bayar utang almarhum bapak. Nggak lama, sahabat abang juga telp, butuh 80 juta untuk operasi anaknya. Uang kita tinggal 20 juta. Maaf ya, tahun ini kita nggak jadi beli mobil dulu.”

Sang istri pun tersenyum, “Aduh, mas, kirain ada masalah apaan. Mas, uang kita yg sebenarnya bukan yg 20 juta itu, tapi yg 130 juta. Uang yg kita infakkan kepada orang tua kita, kepada sahabat kita, itulah harta kita yg sesungguhnya. Yg akan kita bawa menghadap Allah, yg tidak mungkin bisa hilang jika kita ikhlas. Sedangkan yg 20 juta di rekening itu, masih belum jelas, benaran harta kita atau akan menjadi milik orang lain.”

Sang istri pun memegang tangan suaminya, “Mas, insyaAllah ini yg terbaik. Bisa jadi jika kita beli mobil saat ini, jsutru menjadi keburukan bagi kita. Bisa jadi musibah besar justru datang ketika mobil itu hadir saat ini. Maka mari baik sangka kepada Allah, karena kita hanya tahu yg kita inginkan, sementara Allah-lah yg lebih tahu apa yg kita butuhkan.”
***
Kawan, ada tiga pilihan hidup yg harus kita pilih dg sangat hati-hati. Yakni: pendidikan, pekerjaan, dan pendamping hidup. Bukan sekadar yg favorit kampusnya, tapi yg sesuai dg bidang yg ingin kita pelajari. Bukan sekadar yg gajinya besar, tapi yg sesuai dg passion yg ada pada diri. Bukan sekadar yg indah parasnya, tapi yg bisa menjadi penasehat, sahabat, serta perantara untuk mendekat pada Sang Pencipta.  

[Akhwatindonesia]


CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

Selasa, 08 Maret 2016

KEAJAIBAN SEDEKAH Tukang Becak Naik Haji

Pak Parman, demikian orang-orang memanggilnya. Dia hanyalah seorang tukang becak. Sudah bisa ditebak, berapa kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu bisa bocor karena hujan. Meski begitu, Pak Parman memiliki budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang merenggut kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu berbagi kepada orang lain. Siapa kira orang miskin tidak bisa naik haji. Karena sedekah, tukang becak yang satu ini justru mendapatkan keberkahan untuk menunaikan rukun Islam kelima.


Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi harta kepada orang lain. Maka, yang hanya bisa dilakukan Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari Jum’at ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa melakukannya, apalagi orang miskin seperti dirinya. Maka, atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian menghampirinya.


 

Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Ramadhan, tiba-tiba, ada orang yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan, mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak Pak Parman. Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik becak kira-kira ongkosnya berapa ya?”
“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada majikannya.


Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan dekat. Maka, dipanggillah tukang becak yang ada di pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang. Lalu, digoeslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah orang kaya tersebut. Setelah sampai di tempat, Pak Parman dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan. Namun, oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.
“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..
“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya,” jawabnya jujur.


Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya tersebut. Rupanya, kejadian itu sangat membekas di hati orang kaya tersebut. Orang kaya seperti dirinya saja tidak pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya dengan begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah dapat, Pak Parman pun dikasih uang satu juta. Orang kaya itu pikir, Pak Parman akan menerimanya karena uangnya besar. Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan Pak Parman sama: dia tidak menerima uang sepeser pun di hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab, dia sudah meniatkannya untuk bersedekah. Subhanallah!

Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin penasaran. Maka Jum’at berikutnya (di hari Ramadhan juga), orang kaya itu pun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman. Maka diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak Parman. Setelah sampai, Pak Parman pun diberikan uang yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya itu pikir Pak Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi, perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang yang bagi dia itu sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar lagi akan Lebaran dan uang itu pasti akan berguna buat dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya dengan halus.

Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak mengerti. Kenapa orang miskin seperti Pak Parman tidak mau menerima uang sebesar itu? Padahal, uang itu bisa ia gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran orang kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at berikutnya, dia pun naik becak milik Pak Parman lagi. Namun, kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.
“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.
“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.
“Pokoknya, antarkan saya saja.”

Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji: apakah tukang becak itu benar-benar orang miskin ataukah tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman. Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek. Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena terpaan air hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.
“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak menerimanya,” pinta orang kaya kepada Pak Parman.


Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak uang pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah lelaki yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.

Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah dengan ketulusan hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa yang dilakukan Pak Parman benar-benar tulus dari hatinya. Ia benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari 1000 orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di dunia. Luar biasa!


Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini hatinya terusik lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang becak. Dan waktu pun terus berlalu.

Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak bertemu lagi. Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya itu kembali menemui Pak Parman di rumah kostnya. Kembali ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman orang kaya kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini niat baik saya diterima. Bapak dan istri serta anak Bapak akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci. Sekali lagi, mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”

Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata wayangnya. Pergi ke Mekkah saja tidak pernah ia bayangkan sejak dulu, ini apalagi ia dan keluarganya akan diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat luar biasa dari Allah swt. Tawaran orang kaya itu pun diterima Pak Parman dengan setulus hati.


Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji. Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memiliki hati yang sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah di Mekkah al-Mukarramah dan makam Nabi Muhammad saw di Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia yang menolak satu juta, dua juta, 10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Allah menggantinya dengan haji ke Baitullah, bersama istri dan anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan setiap hari Jum’at?! Subhanallah!

Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman akhirnya dibuatkan rumah oleh orang kaya tersebut. Maka, semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia itu. Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di bulan berikutnya.


Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena sedekah yang dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak Parman? Dia yang miskin masih memikirkan untuk berbagi untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih mampu dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti jejaknya, terutama dalam hal ketulusannya dalam berbagi! Amin.

Karena Doa Ini, Umat Nabi Muhammad Tidak Diazab

Tahukah Anda apa itu pengertian azab dalam Islam? Azab merupakan siksaan yang dihadapi oleh seluruh makhluk Tuhan termasuk manusia karena kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Manusia memang tak luput dari kesalahan, karenanya umat Nabi Muhammad ini bahkan pernah layak mendapat azab.

Sebagian besar dari kita pasti sudah tahu apa itu azab dalam Islam. Akan tetapi pernah juga karena doa ini, umat Nabi Muhammad tidak diazab, doa luar biasa apakah ini? Apakah doa bersangkutan sulit dilakukan? Ulasan di bawah ini akan menjawab beberapa pertanyaan tersebut secara ringkas namun lengkap.

Karena Doa Ini, Umat Nabi Muhammad Tidak Diazab

Di suatu kafilah dakwah dengan Sa’ad bin Abi, Nabi Muhammad SAW pernah melewati masjid yaitu Masjid Bani Muawiyah. Selanjutnya Rasulullah SAW masuk ke dalam masjid dan menunaikan shalat dua rakaat. Setelah shalat sunnah Tahiyyatul Masjid tersebut berakhir, beliau memanjatkan kembali doa kepada Allah Yang Maha Esa. Ternyata doa ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, isinya yaitu permintaan Nabi Muhammad SAW agar umatnya bisa betul-betul terbebas dari azab yang dikirimkan Allah Sang Pencipta. Lebih lengkapnya, Rasulullah SAW menyatakan tiga permintaan yang ternyata selanjutnya dua permohonan dikabulkan sementara satu lainnya ditolak. Pertama, Nabi Muhammad SAW memohon agar umat beliau tidak dibinasakan dengan cara tenggelam. Kedua, Nabi Muhammad SAW memohon pada Allah Ta’ala agar umat beliau tak dibinasakan dengan cara kelaparan di musim kemarau. Dua permintaan ini dikabulkan Allah, namun sampailah Nabi Muhammad SAW ke permohonan terakhir. Isinya meminta agar tak ada keganasan terjadi antara manusia. Ternyata permohonan ini ditolak oleh Allah Yang Maha Kuasa. 

Dengan berpegang pada definisi azab, kita mungkin sudah tahu bahwa Allah Yang Maha pengasih pernah berfirman tentang azab. Hanya Allah yang memiliki kuasa mengirim azab kepada manusia, azab datangnya bisa dari atas atau bahkan kaki kita. Allah juga bisa membaurkan kita ke suatu golongan dan membiarkan golongan bersangkutan bersikap ganas pada kita. Intinya, azab akan menunjukkan kebesaran Allah yang luar biasa, kita sebagai manusia sudah pasti tak bisa menolaknya tanpa cara yang dipraktikkan Nabi Muhammad SAW. Jadi, selalu hati-hatilah dalam berbicara mapun bersikap.

Keganasan manusia yang tak dihentikan oleh Allah ini ternyata banyak terjadi di negara penuh dengan konfilk. Kita sendiri pasti pernah melihatnya di hadapan kita, baik dari pang paling sederhana sampai paling mengerikan sekalipun. Rupanya, ada suatu bangsa yang dipercaya oleh Allah untuk menimpakan azab pada kaum kafir, bangsa ini antara lain palestina dan kaum mujahid yang tersebar di berbagai daerah. Perlu diperhatikan bahwa azabnya tetap berasal dari Allah, namun eksekusi dilakukan oleh bangsa tertentu ini.

Di kisah yang beredar, bangsa yang terkena oleh azab ini adalah Bangsa Zionis dan bangsa penjajah lainnya. Rupanya, kaum Muslimin yang senantiasa percaya pada Allah SWT ini selalu meraup kemenangan, apalagi terhadap bangsa yang tidak mengenal azab menurut Islam. Untung saja Nabi Muhammad SAW masih peduli terhadap mereka semua dan kasih sayangnya membantu mereka terselamatkan dari azab. Ingin senantiasa terbebas dari azab Allah? Pastikan kita sebagai umat Islam selalu menuruti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ingatlah juga untuk menunaikan shalat sunnah Tahiyyatul Masjid yang diikuti dengan beberapa permintaan karena doa ini, umat Nabi Muhammad tidak diazab.

Minggu, 06 Maret 2016

Kisah Seorang ANAK SHOLEH yang CACAT dan Ayahnya

Belum sampai 30 tahun usiaku ketika istriku melahirkan anak pertamaku. Masih aku ingat malam itu, dimana aku menghabiskan malam bersama dengan teman-temanku hingga akhir malam, dimana waktu semalaman aku isi dengan ghibah dan komentar-komentar yang haram. Akulah yang paling banyak membuat mereka tertawa, membicarakan aib manusia, dan mereka pun tertawa.Aku ingat malam itu, dimana aku membuat mereka banyak tertawa. Aku punya bakat luar biasa untuk membuat mereka tertawa. Aku bisa mengubah nada suara hingga menyerupai orang yang aku tertawakan. Aku menertawakan ini dan itu, hingga tidak ada seorangpun yang selamat dari tertawaanku walaupun ia adalah para sahabatku. Hingga akhirnya sebagian dari mereka menjauhiku agar selamat dari lisanku. Aku ingat pada malam itu aku mengejek seorang yang buta, yang aku melihatnya sedang mengemis di pasar. Lebih buruk lagi, aku meletakkan kakiku di depannya untuk mendorongnya hingga ia goyah dan jatuh, hingga dia berpaling dengan kepalanya dan tidak mengetahui apa yang ia katakan.



Leluconku menyebabkan orang-orang yang ada di pasar tertawa. Aku kembali ke rumah dalam keadaan terlambat seperti biasa. Aku mendapati istriku yang sedang menungguku tengah bersedih. Dia bertanya padaku, darimana saja kamu? Aku menjawabnya dengan sinis, “Aku lelah.” Kelelahan tampak jelas diwajahnya. Ia berkata dengan menangis tersedu, “Aku lelah sekali, tampaknya waktu persalinanku sudah dekat.”
Dalam diamnya, air matanya menetes di pipinya. Aku merasa bahwa aku telah mengabaikan istriku dalam hal ini. Seharusnya aku memperhatikannya dan mengurangi begadangku, lebih khusus di bulan kesembilan dari kehamilannya ini. Akhirnya, aku membawanya ke rumah sakit dengan segera dan aku masuk ke ruang bersalin. Aku seakan merasakan sakit yang sangat beberapa saat. Aku menunggu persalinan istriku dengan sabar, tapi ternyata sulit sekali proses persalinannya. Aku menunggu lama sekali hingga aku kelelahan. Maka aku pulang ke rumah dengan meninggalkan nomor HP ku di rumah sakit dengan harapan mereka mengabariku.
Setelah beberapa saat, mereka menghubungiku dengan kelahiran Salim. Maka aku bergegas ke rumah sakit. Pertama kali mereka melihatku, aku bertanya tentang kamarnya. Tetapi mereka memintaku untuk menemui dokter yang bertanggung jawab dalam proses persalinan istriku. Aku berteriak kepada mereka: “Dokter apa? Aku hanya perlu melihat anakku.” Akan tetapi mereka mengatakan: “Anda harus menemui dokter terlebih dahulu.”

Akhirnya aku menemui dokter tersebut. Lantas dia berbicara kepadaku tentang musibah dan ridha terhadap takdir. Kemudian ia berkata: “Mata kedua anak anda buruk, dan sepertinya dia akan kehilangan penglihatannya!”

Aku menundukkan kepala dan berusaha mengendalikan ucapanku. Aku jadi teringat dengan pengemis buta yang aku dorong di pasar dan menertawakannya di hadapan manusia.

Maha Suci Allah, sebagaimana engkau mengutuk, maka engkau akan dikutuk. Aku sangat sedih dan tidak mengetahui apa yang aku katakan. Kemudian aku ingat istri dan anakku. Aku berterima kasih kepada dokter atas kelemah lembutannya, lantas aku berlalu dan tidak melihat istriku. Adapun istriku maka dia tidak bersedih, dia ridha dan beriman terhadap takdir Allah. Seringkali ia menasehatiku untuk menjaga diri dari menertawakan orang lain, dan ia juga senantiasa mengulang-ulanginya agar aku tidak ghibah.

Kami keluar dari rumah sakit bersama Salim. Sungguh, aku tidak banyak memperhatikannya. Aku menganggapnya tidak ada di rumah. Ketika tangisannya sangat keras, aku lari ke lorong untuk tidur di sana. Sedangkan istriku sangat memperhatikan dan mencintainya. Sebenarnya aku tidak membencinya, tetapi masih belum bisa mencintainya.

Salim pun semakin besar. Mulailah dia merangkak, akan tetapi cara merangkaknya aneh. Umurnya hampir setahun, dan mulailah dia berjalan. Maka semakin jelas jika dia p1ncang. Maka beban yang berada di pundakku semakin besar. Setelah itu istriku melahirkan anak yang normal setelahnya, Umar dan Khalid. Berlalulah beberapa tahun dan Salim semakin besar, dan tumbuh besar pula saudara-saudaranya. Aku sendiri tidak seberapa suka duduk-duduk di rumah, seringkali aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku.

Istriku tidak pernah putus asa untuk senantiasa menasehatiku. Dia senantiasa mendoakanku agar mendapat hidayah. Dia tidak pernah marah terhadap perbuatanku yang gegabah. Akan tetapi, ia sangat bersedih jika melihatku banyak memperhatikan saudara-saudara Salim, sementara kepada Salim aku meremehkannya. Salim semakin besar dan harapanku kepadanya juga semakin besar. Aku tidak melarang ketika istriku memintaku agar mendaftarkan Salim di salah satu sekolah khusus penyandang cacat. Tidak terasa aku telah melalui beberapa tahun hanya aku gunakan untuk bekerja, tidur, makan dan begadang dengan teman-temanku.

Pada hari Jumat, aku bangun pada pukul 11.00 waktu zhuhur. Dan ini masih terlalu pagi bagiku, dimana ketika itu aku diundang untuk menghadiri suatu perjamuan. Aku berpakaian, mengenakan wewangian dan hendak keluar. Aku berjalan melalui lorong rumah, namun wajah Salim menghentikan langkahku. Dia menangis dengan meluap-luap!

Ini adalah kali pertama aku memperhatikan Salim semenjak dia masih kecil. Telah berlalu 10 tahun, tetapi aku tidak pernah memperhatikannya. Aku mencoba untuk pura-pura tidak tahu, tetapi tidak bisa. Aku mendengarkan suaranya yang sedang memanggil ibunya, sementara aku sendiri berada di dalam kamar. Aku melihatnya dan berusaha mendekat kepadanya. Aku berkata: “Salim, mengapa engkau menangis?” Ketika mendengar suaraku, ia berhenti menangis. Maka ketika ia merasa aku telah berada di dekatnya, dia mulai merasakan apa yang ada di sekitarnya dengan kedua tangannya yang kecil. Dengan apakah dia melihat? Aku merasa bahwa dia berusaha untuk menjauh dariku!! Seolah-olah ia berkata: “Sekarang engkau telah merasakan keberadaanku. Dimana saja engkau selama 10 tahun yang lalu?!” Aku mengikutinya, ia masuk ke dalam kamarnya. Ia menolak memberitahukan kepadaku sebab dari tangisannya. Maka aku mencoba untuk berlemah lembut kepadanya. Mulailah Salim menjelaskan sebab tangisannya. Aku mendengar ucapannya, dan aku mulai bangkit.

Apakah kalian tahu apa yang menjadi sebabnya!! Saudaranya, Umar, terlambat, terlambat mengantarkannya pergi ke masjid, sebab ketika itu adalah shalat jumat, dia khawatir tidak mendapatkan shaf pertama. Ia memanggil Umar, ia memanggil ibunya, akan tetapi tidak ada yang menjawabnya, akhirnya ia menangis. Aku melihat airmata yang mengalir dari kedua matanya yang tertutup. Aku belum bisa memahami kata-katanya yang lain. Aku meletakkan tanganku kepadanya dan berkata: “Apakah untuk itu engkau menangis, wahai Salim…?!”

Dia berkata, “Ya…”

Aku telah lupa dengan teman-temanku, aku telah lupa dengan undangan perjamuan.

Aku berkata: “Salim, jangan bersedih! Tahukah engkau siapakah yang akan berangkat denganmu pada hari ini ke Masjid?”

Ia berkata: “Dengan Umar tentunya, tetapi ia selalu terlambat.”

Aku berkata: “Bukan, tetapi aku yang akan pergi bersamamu.”

Salim terkejut, ia seakan tidak percaya. Dia mengira aku mengolok-oloknya. Dia meneteskan airmata kemudian menangis. Aku mengusap air matanya dengan tanganku dan aku pegang tangannya. Aku ingin mengantarkannya dengan mobil, tetapi ia menolak seraya mengatakan: “Masjidnya dekat, aku hanya ingin berjalan menuju masjid!”

Aku tidak ingat kapan kali terakhir aku masuk ke dalam masjid. Akan tetapi ini adalah kali pertama aku merasakan adanya takut dan penyesalan atas apa yang telah aku lalaikan selama beberapa tahun belakangan. Masjid itu dipenuhi dengan orang-orang yang shalat, kecuali aku mendapati Salim duduk di shaf pertama. Kami mendengarkan khutbah jumat bersama, dan dia shalat di sampingku. Bahkan, sebenarnya akulah yang shalat di sampingnya.

Setelah shalat, Salim meminta kepadaku sebuah mushaf. Aku merasa aneh, bagaimana dia akan membacanya padahal ia buta? Aku hampir saja mengabaikan permintaannya dan berpura-pura tidak mengetahui permintaannya. Akan tetapi aku takut jika aku melukai perasaannya. Akhirnya aku mengambilkan sebuah mushaf. Aku membuka mushaf dan memulainya dari surat al Kahfi. Terkadang aku membalik-balik lembaran, terkadang pula aku melihat daftar isinya. Maka ia mengambil mushaf itu dari tanganku kemudian meletakkannya. Aku berkata: “Ya Allah, bagaimana aku mendapatkan surat al kahfi, aku mencari-carinya hingga mendapatkannya di hadapannya!!”

Mulailah ia membaca surat itu dalam keadaan kedua matanya tertutup. Ya Allah…!! Ia telah hafal surat al Kahfi secara keseluruhan…!

Aku malu pada diriku sendiri. Aku memegang mushaf, namun aku rasakan seluruh anggota badanku menggigil. Aku baca dan aku baca. Aku berdoa kepada Allah agar mengampuniku dan memberi petunjuk kepadaku. Aku tidak kuasa, maka mulailah aku menangis seperti anak kecil. Manusia masih berada di masjid untuk mendirikan shalat sunnah. Aku malu pada mereka, maka mulailah aku menyembunyikan tangisanku. Maka berubahlah tangisan itu menjadi isakan.

Aku tidak merasakan apa-apa ketika itu kecuali melalui tangan kecil yang meraba wajahku dan mengusap kedua airmataku. Dialah Salim!! Aku dekap dia ke dadaku dan aku melihatnya. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Engkau tidaklah buta wahai anakku, akan tetapi akulah yang buta, ketika aku bersyair di belakang orang fasiq yang menyeretku ke dalam api neraka.”

Kami kembali ke rumah. Istriku sangat gelisah terhadap Salim. Namun seketika itu juga kegelisahannya berubah menjadi airmata kebahagiaan ketika ia mengetahui bahwa aku telah shalat jumat bersama Salim.

Sejak saat itu, aku tidak pernah ketinggalan untuk mendirikan shalat jamaah di masjid. Aku telah meninggalkan teman-teman yang buruk. Sekarang aku telah mendapatkan banyak teman yang aku kenal di masjid. Aku merasakan nikmatnya iman bersama mereka. Aku mengetahui dari mereka banyak hal yang dilalaikan oleh dunia. Aku tidak pernah ketinggalan mendatangi kelompok-kelompok pengajian atau shalat witir. Aku telah mengkhatamkan al Quran beberapa kali dalam sebulan. Lisanku telah basah dengan dzikir agar Allah mengampuni dosa-dosaku berupa ghibah dan menertawakan manusia. Aku merasa lebih dekat dengan keluargaku. Hilang sudah ketakutan dan belas kasihan yang selama ini ada di mata istriku. Senyuman tidak pernah pergi menjauhi wajah anakku, Salim. Siapa yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah seorang malaikat dunia beserta isinya. Aku banyak memuji Allah atas segala nikmat-Nya.

Suatu hari, teman-temanku yang shalih menetapkan diri melakukan safar untuk berdakwah. Aku ragu-ragu untuk pergi. Aku melakukan istikharah dan bermusyawarah dengan istri. Aku merasa dia akan menolak keinginanku. Akan tetapi ternyata sebaliknya, ia menyetujui keinginanku! Aku sangat bahagia, bahkan ia memotivasiku. Dia telah melihat masa laluku, dimana aku melakukan safar tanpa musyawarah dengannya sebagai bentuk kefasiqan dan perbuatan jahat.

Aku menghadap ke arah Salim. Aku mengabarinya jika aku hendak melakukan safar. Maka dia memegangku dengan kedua tangannya yang masih kecil sebagai ungkapan selamat jalan.

Aku telah meninggalkan rumahku lebih dari satu bulan. Selama itu, aku masih senantiasa menghubungi istriku dan juga berbicara kepada anak-anakku selama ada kesempatan. Aku sangat rindu kepada mereka. Ah, betapa rindunya aku kepada Salim. Aku sangat ingin mendengarkan suaranya. Dialah satu-satunya yang belum berbicara denganku semenjak aku melakukan safar. Bisa jadi karena dia berada di sekolah, bisa juga dia berada di masjid ketika aku menghubungi mereka.

Setiap kali aku berbicara dengan istriku perihal kerinduanku padanya (Salim), maka ia tertawa suka cita dan bahagia. Kecuali kali terakhir aku meneleponnya, aku tidak mendengar tawanya seperti biasa, suaranya berubah.

Aku berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Salim.” Istriku menjawab: “Insya Allah…!” Kemudian ia terdiam.

Terakhir, aku pun kembali ke rumah. Aku ketuk pintu. Aku berangan-angan jika Salim yang akan membukakan pintu itu. Akan tetapi, aku mendapati anakku Khalid yang usianya belum sampai 4 tahun membukakan pintu. Aku gendong dia, dan dia berteriak-teriak: “Baba…baba…”

Aku tidak tahu kenapa dadaku berdebar ketika memasuki rumah.

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Istriku menyambutku. Wajahnya mulai berubah, seolah-olah kebahagiaannya dibuat-buat.

Aku perhatikan ia baik-baik kemudian aku bertanya: “Ada apa denganmu?”

Ia berkata: “Tidak apa-apa.”

Tiba-tiba aku teringat Salim, maka aku berkata: “Dimana Salim.”

Istriku menundukkan wajahnya dan tidak menjawab. Airmata yang masih hangat menetes di pipinya.
Aku berteriak, “Salim…! Di mana Salim?”

Aku mendengar suara anakku Khalid yang hanya bisa mengatakan: “Baba…”

“Salim telah melihat surga,” kata istriku.

Istriku tidak kuasa dengan situasi ketika itu. Ia hendak menangis, hampir saja ia pingsan. Maka kemudian aku keluar dari kamar.

Aku tahu setelah itu, bahwa Salim terserang panas yang sangat tinggi beberapa hari sebelum kedatanganku. Istriku telah membawanya ke rumah sakit, ketika tiba disana maka ia menghembuskan nafas terakhir. Ruhnya telah meninggalkan jasadnya.
Aku mengira, anda semua wahai para pembaca akan menangis, dan air mata anda akan mengalir sebagaimana air mata kami juga mengalir. Anda akan tersentuh sebagaimana kami juga tersentuh. Aku berharap Anda semua tidak lupa untuk mendoakan Salim, lebih khusus lagi bagi ibunya yang tetap teguh menjalankan tugasnya walaupun suaminya pergi. Jadilah ibu tersebut seperti perusahaan sebenarnya yang menghasilkan kaum laki-laki yang kuat. Semoga Allah membalas amal kebaikannya.
Sumber diambil dari kisah yang berjudul “Allah Azza wa Jalla memberi hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki.”




CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING

SEMUA PASTI BERLALU

Kenapa saya disini menulis hubungan kisah nyata yang cukup mencengangkan mata dan mengagetkan telinga... Ooops... Salah, Maksudnya mendebarkan jantung simaklah kisah berikut ini "SEMUA PASTI BERLALU" Ini kisah nyata loh para pembaca budiman, sebut saja namanya abdullah dia seorang pencari kebenaran atau keberadaan Tuhan, di suatu hari dia tersesat, dalam keadaan kelaparan, kehausan, atas pertolongan ALLAH SWT dia ketemu suatu kampung, disana dia mau beristirahat di lihatnya sebuah gubuk yang reyot lalu di ketuknya tok...tok...tok...tok..... Assalamu'alaikum kata abdullah, di balik gubuk yang reyot keluarlah seorang nenek yang tua ( Kreeeaaatttt pintupun terbuka : ada apa nak sapa si nenek tua tersebut ), nek tolonglah saya dengan suara merintih abdullah berkata sudah 3 ( tiga ) hari saya tidak makan hanya air saja yang saya jumpai, berilah saya 1 ( satu ) piring nasi saja nek !




Dengan raut wajah  yang sedih dan suara yang pelan nenek itu berkata, Maaf nak saya tidak punya makanan apa-apa, tapi mari saya antarkan anak ke rumah saudagar kaya di kampung ini, lalu mereka berdua berangkat ke rumah saudagar tersebut. Setibanya disana mereka langsung di sambut oleh saudagar di kasih makan dan di jamu dengan makanan yang lezat-lezat.

Selesai makan nenek dan abdullah berpamitan, sebelum pergi abdullah sempat bertanya bapak yang baik hati terima kasih atas semua kebaikannya, jika saya boleh tahu apa yang membuat bapak sekaya ini?
saudagar tersebut hanya diam sesaat, kemudian dia menjawab  ( Semua pasti berlalu ), hanya itu yang keluar dari mulutnya kemudian abdullah pun berpamitan dan melanjutkan tujuannya.

Selang beberapa tahun kemuadian adullah melintasi kampung itu lagi di carinya rumah sesosok saudagar dermawan tadi, tapi alangkah kagetnya abdullah ketika menyaksikan rumah saudagar ba' gedung yang berada di tengah-tengah gubuk kini telah menjadi rumah gubuk di tengah-tengah gedung.

Kembali saya datangi bapak saudagar tersebut tapi dalam keadaan demikian pun saya masih di jamu walaupun kali makanan sangat sederhana sekali, saudagar itu tidak banyak berbicara, kembali abdullah berpamitan untuk pulang, terima kasih pak atas kebaikan bapak, untuk kedua kalinya abdullah bertanya apa yang membuat saudagar jatuh miskin seperti ini?

Lagi-lagi yang keluar dari mulut saudagar tersebut " Semua Pasti Berlalu " hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya, kemudian abdullah pun pergi. Selang beberapa bulan kemudian abdullah kembali bertemu dengan saudagar miskin tadi, lagi-lagi abdullah tercengang di buatnya ternya dia telah menjadi seorang yang kaya raya kembali dan abdullah pun di jamu untuk makan yang enak-enak kemudian berpamitan untuk pulang kali ini dia menanyakan untuk yang ketiga kalinya apa gerangan yang membuat saudagar menjadi kaya seperti ini ? lagi-lagi jawabannya " Semuanya Pasti Berlalu "  da abdullah pun berpamitan pulang.

Dalam hati di tengah perjalanan abdullah merasa heran kenapa sudah tiga kali dia bertanya jawaban semua pasti berlalu dalam hati berfikir apa sih sebenarnya antara hubungan kekayaan, kemiskinan dan kekayaan kembali yang sesingkat itu saudagar itu miliki hanya dengan jawaban " Semua Pasti Berlalu " perjalanan demi perjalanan di lalui oleh abdullah, selang beberapa tahun kemuadian kembali abdullah ingin ketemu saudagar kaya tadi dan ingin menanyakan apa maksud dari semua jawabannya tersebut.

Setelah dia cari di kampung tersebut tapi rumah dan saudagar itu tidak lagi dia jumpai dia tanya di sekelilingnya ada seseorang yang mengatakan saudagar tersebut telah berpindah di antarkanlah ke rumah saudagar tersebut tapi kali ini abdullah terpaku di buatnya tapi saat ini yang dia temui bukanlah sesosok saudagar kaya yang dia temui melainkan seonggok batu nisan dengan bertulisan tinta emas di atas kuburan yang tulisannya " SEMUA PASTI BERLALU " meneteslah air mata abdullah dan berdo'a untuk saudagar tersebut kemudian berjalan pulang bersama orang yang mengantarkannya di tengah perjalalanan abdullah bertanya tentang tulisan di batu nisan tersebut, lagi-lagi dibuatnya jantung abdullah berdebar kencang setelah mengetahui ternyata tulisan di atas pusara itu bukanlah hasil cipta karya manusia melainkan timbulnya tulisan tersebut satu malam saudagar kaya tersebut di kebumikan.

Tahukah anda  membaca yang budiman, setelah di selidiki kebaikan apa yang pernah di lakukan oleh saudagar kaya tersebut, ternya jawabannya ( SEDEKAH ) Nah terbukti ternyata dengan sedekah mendapatkan keajaiban-keajaiban dari ALLAH SWT, dan saudagar tersebut adalah orang yang paling gemar bersedekah.

Untuk itu para pembaca yang budiman tingkatkan sedekahmu karena sedekah tidak lah membuat anda menjadi seorang miskin melainkan anda menjadi kaya dan menjauhkan anda dari para bahaya. 




CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING

Jumat, 04 Maret 2016

Ketika Pintu Rezeki Ibu Rumah Tangga Ada Di Tangan Anak

Suatu hari sepulang belanja bulanan di sebuah hypermarket, anak pertamaku yang belum berusia 4 tahun menunjuk ke arah play ground sebuah restoran cepat saji sambil berkata, “Mih, aku mau main perosotan di situ, ya.”



Aku memeriksa dompet dan benar saja, uang sisa belanja tidak cukup untuk makan di restoran tersebut. “Kakak, maaf ya, uang mimih tidak cukup. Lain kali saja kita mainnya, ya,” rayuku berharap dia mengerti posisiku.

Di luar dugaan, anakku yang biasanya penurut dan jarang meminta macam-macam, tiba-tiba mengamuk. “Kakak mau main sekarang! Nggak mau besok!” teriaknya dengan cucuran air mata. 



Aku tertegun dan mulai merasakan mataku memanas. Sekuat tenaga kutahan air mata ini agar tidak meluncur. Betapa nelangsanya hatiku saat itu, tidak bisa memenuhi permintaan buah hatiku yang jarang sekali meminta.



Kejadian tersebut membuatku menimbang-nimbang kembali tawaran teman-temanku untuk bekerja full time. Saat ini aku memang bekerja paruh waktu sebagai dosen honorer. Aku berpikir, mungkin jika aku kembali bekerja full time dan memperoleh penghasilan tetap, aku bisa memenuhi keperluan anak-anakku yang kian banyak.



Apalagi bila anakku sudah berkumpul dengan sepupu-sepupunya, ada saja yang ia ceritakan. Misalnya, kemarin sepupunya habis dibelikan mainan, habis jalan-jalan, liburan ke luar negeri dan sebagainya. Anakku jarang sekali meminta, tapi aku tahu ia berharap juga aku memberikan itu untuknya. Kadang aku jadi menyalahkan diri sendiri.



Kuutarakan niatku untuk kembali bekerja kepada suami. Kebetulan belum lama ini seorang sahabat menawariku posisi yang sangat menarik. Suamiku menyerahkan semuanya padaku. Akhirnya aku menghubungi sahabatku itu dan segera ia memintaku untuk menjalani training selama 3 hari.

Selama training, aku sangat tegang, hatiku tak karuan. Bayang-bayang kedua anakku terus berkelebat. Aku rindu senyuman, tangisan, ocehan mereka yang lucu. Benarkah ini keputusan yang terbaik bagi keluargaku? Apakah jika aku bekerja fulltime dan memperoleh penghasilan lebih, anak-anakku bisa bahagia? Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja menderaku.



Tiga hari kujalani training, tetapi aku semakin tidak yakin saja. Tiap aku berangkat, anak-anakku masih tidur dan saat pulang, mereka sudah tidur. Kuutarakan keresahanku kepada sahabatku. Dia mengerti dan memberiku waktu untuk berpikir.



Aku telah mengambil keputusan. Tak terbayang jika sebagian besar waktu aku habiskan di luar rumah, sedangkan anak-anakku diasuh orang lain. Dan mungkinkah pembinaan agama bagi anak-anakku dapat didelegasikan pada khadimat atau baby sitter yang belum jelas keimanan dan komitmennya kepada Islam? Memang aku tak bisa membelikan mainan mahal bagi anak-anakku, atau fasilitas lain yang diperoleh sepupunya. Tapi aku yakin bukan materi yang dapat menjamin kebahagiaan seorang anak.



Iseng-iseng aku bertanya kepada anak pertamaku. “Kak, boleh tidak mimih kerja? Setiap hari berangkat pagi, pulangnya malam seperti papah.” Dia terdiam memperhatikanku, kemudian terucap kata-kata yang sudah aku duga, “Aku nggak mau mimih kerja. Aku pingin ada mimih.”



Memang tidak mudah memilih dan membuat keputusan. Tetapi selama keputusan itu didasarkan atas Al Quran dan hadits serta tujuannya ikhlas karena Allah semata, tentunya wajib kita yakini. Bagiku mengasuh anak serta menanamkan kecintaan pada Islam adalah amanah tertinggi bagi seorang perempuan. Masalah rezeki cukuplah Allah sebaik-baik penolong.
Sumber : 8kabar 


CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,
Jasa pembuatan situs web blog murah banget

Masya Allah, Ini Manfaat Luar Biasa Berpegangan Tangan bagi Suami-Istri

Jika Anda salah satu orang yang berpikir bahwa memegang tangan adalah sesuatu yang sangat sederhana dan tak berarti, rutinitas yang membos...

Jasa pembuatan situs web blog murah banget